Sabtu, 30 Agustus 2025

suatu kaum

Kualitas suatu negara 
dilihat dari kualitas rakyatnya
Nasib suatu kaum tak kan berubah
Jika mereka tidak mau berubah

Orang orang yang busuk hatinya
Mereka yang penuh prasangka
Begitu dalam memendam kebencian
Mendapat kesempatan melampiaskan

Tuhan tidak pernah mendzalimi manusia
Segala ketimpangan hasil perbuatan kita
Maka panenlah buah itu jerih payahmu
saksikan bentuk wajahmu - kelakuanmu



Selasa, 26 Agustus 2025

Amarah

Aku rusak retak 
hancur dan patah
Menyimpan sebak 
Mata hati sembab basah

Kesedihan yang terus mengalir
Usir amarah yang terukir
Dunia serasa membeku
Sekujur tulang tubuh linu

Aku merasa gagal ambil pelajaran
Babak belur ditampar kenyataan
Jalan sudah jauh berjalan
Masih terasa neraka dan keletihan


Selasa, 19 Agustus 2025

kepuasan manusia

Ketika si kakek bos dari 
squid game ditanya
Mengapa bisa sekejam itu 
Jawabannya karena dia bosan
Lalu aku dengar percakapan orang
Mereka yang terbiasa haus kemewahan 
Yang bosan dengan makanan 
Karena kebanyakan makan
Padahal bagi yang jarang makan itu
Mereka akan kegirangan 
Begitupun scrol di tiktok 
Bahas penemuan penelitian 
Tentang surga buatan bagi tikus
Yang kelamaan malah
Menjadi kehancuran karena
Perubahan tikus tikus itu yang
Menjadi malas, agresif 
dan kehilangan tujuan
Rasa puas tak kan pernah terpenuhi 
Kecuali dengan rasa cukup dan syukur 
Cukup pun akan terasa bosan dan sepi
Bila hidup tidak menemukan tujuan sejati 

Kamis, 14 Agustus 2025

luntur

dan lihatlah rupa warna luntur 
pandangan mengabur 
dedaunan gugur 
kita hidup menitipkan tangis 
pada anak anak lahir sempat 

Bumi menjerit langit menangis 
hati membeku semangat layu 
sedingin salju sekeras batu 
saling mengisi...ooh

dan lihatlah kulitmu mengendur 
jiwamu bertabur...keangkuhan 
kita hidup untuk kesepian 
untuk merasakan keletihan 

Bumi menjerit langit menangis 
hati membeku semangat layu 
sedingin salju sekeras batu 
saling mengisi datang dan pergi

Puisi Puisi Pilihan Baca Sempat (Chairil Anwar, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono Dll)

Subagio Sastrowardoyo 

Hebat tiang utuh 
menjulang di gigir langit 
suram 

sebuah bukit terbentuk 
dari satu batu 
oleh tangan beku. 

 Sebuah monolith lingga 
 God! 

 Dan Kematian Makin Akrab 
(Sebuah Nyanyian Kabung) 

 Di muka pintu masih bergantung tanda kabung Seakan ia tak akan kembali Memang ia tak kembali tapi ada yang mereka tak mengerti - mengapa ia tinggal diam waktu berpisah. 

Bahkan tak ada kesan kesedihan pada muka dan mata itu, yang terus memandang, seakan mau bilang dengan bangga : - Matiku muda - Ada baiknya mati muda dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktunya Di ujung musim yang mati dulu bukan yang dirongrong penyakit tua, melainkan dia yang berdiri menentang angin di atas bukit atau dekat pantai di mana badai mengancam nyawa. 

Sebelum umur pahlawan ditanam di gigir gunung atau di taman-taman di kota tempat anak-anak main layang-layang. Di jam larut daun ketapang makin lebat berguguran di luar rencana Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa - itu bahasa semesta yang dimengerti - Berhadapan muka seperti lewat kaca bening Masih dikenal raut muka, bahkan kelihatan bekas luka dekat kening Ia menggapai tangan di jari melekat cincin - Lihat, tak ada batas antara kita. 

Aku masih terikat kepada dunia karena janji karena kenangan Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih juga angan-angan dan selera keisengan - Di ujung musim dinding batas bertumbangan dan kematian makin akrab. 

Sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih karena layang-layangnya robek atau hilang -Lihat, bu, aku tak menangis sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit – 


 Lahir Sajak 
 Malam yang hamil oleh benihku Mencampakkan anak sembilan bulan Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu membawa dosa pertama di keningnya. Tangisnya akan memberitakan kelaparan dan rinduku, sakit dan matiku. Ciumlah tanah yang menerbitkan derita. Dia adalah nyawamu. 


 Di Ujung Ranjang 
 waktu tidur tak ada yang menjamin kau bisa bangun lagi tidur adalah persiapan buat tidur lebih lelap di ujung ranjang menjaga bidadari menyanyi nina bobo 

 Pidato di Kubur Orang 
 Ia terlalu baik buat dunia ini. Ketika gerombolan mendobrak pintu Dan menjarah miliknya Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan Ketika gerombolan memukul muka Dan mendopak dadanya Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan. Ketika gerombolan menculik istri Dan memperkosa anak gadisnya Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian. Ketika Gerombolan membakar rumahnya Dan menembak kepalanya Ia tinggal diam dan tidak mengucap penyesalan. Ia terlalu baik buat dunia ini 


 Daerah Perbatasan I 

 Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan: Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi. Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia, Juga kehormatan bagi manusia dan keturunan. Atau kita menyerah saja kepada kehinaan dan hidup tak berarti. Lebih baik mati. Mati lebih mulia dan kekal daripada seribu tahun terbelenggu dalam penyesalan. Karena itu kita tetap di pos penjagaan atau menyusup di lorong-lorong kota pedalaman dengan pestol di pinggang dan bedil di tangan. (Sepagi tadi sudah jatuh korban). Hidup menuntut pertaruhan, dan kematian hanya menjamin kita menang. Tetapkan hati. Tak boleh lagi ada kebimbangan di tengah kelaliman terus mengancam. Taruhannya hanya mati.

 II Kita telah banyak kehilangan : waktu dan harta, kenangan dan teman setia selama perjuangan ini. Apa yang kita capai: Kemerdekaan buat bangsa, harga diri dan hilangnya ketakutan kepada kesulitan. Kita telah tahu apa artinya menderita di tengah kelaparan dan putus asa. Kematian hanya tantangan terakir yang sedia kita hadapi demi kemenangan ini. Percayalah: Buat kebahagiaan bersama tak ada korban yang cukup berharga. Tapi dalam kebebasan ini masih tinggal keresahan yang tak kunjung berhenti: apa yang menanti di hari esok: kedamaian atau pembunuhan lagi. Begitu banyak kita mengalami kegagalan dalam membangun hari depan: pendidikan tak selesai, cita-cita pribadi hancur dalam kekacauan bertempur, cinta yang putus hanya oleh hilangnya pertalian. Tak ada yang terus bisa berlangsung. Tak ada kepastian yang bertahan Kita telah kehilangan kepercayaan kepada keabadian Semua hanya sementara: cinta kita, kesetiaan kita. Kita hidup di tengah kesementaraan segala. Di luar rumah terus menunggu seekor serigala. 


 III Waktu peluru pertama meledak Tak ada lagi hari minggu atau malam istirahat Tangan penuh kerja dan mata berjaga mengawasi pantai dan langit yang hamil oleh kianat Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka, atau jerit hati mendendam mau membalas kematian. Harap berjaga. Kita memasuki daerah perang. Kalau peluru pertama meledak Kita harus paling dulu menyerang dan mati atau menang Mintalah pamit kepada anak dan keluarga dan bilang: Tak ada lagi waktu buat cinta dan bersenang. Kita simpan kesenian dan budaya di hari tua. Kita mengangkat senjata selagi muda dan mati atau menang. * Rangda! dewa bermata galak dan napsu membusa Datanglah sebagai pengertian atau sebagai nama jangan sebagai ujud karena semua ujud menakutkan Biarlah aku membayangkan kau sebagai kekosongan atau sebagai kata, asal segala mula Barangkali boleh kutangkap sebagai sedih kenangan atau suara yang belum mencapai makna Tapi jangan sekali berujud sebab segala ujud menakutkan Siapakah Engkau - Sapardi Djoko Damono Aku adalah Adam yang telah memakan apel itu; Adam yang tiba-tiba sadar Kehadirannya sendiri Terkejut dan merasa malu Aku adalah Adam yang kemudian mengerti Baik dan buruk, yang mencoba lolos Dari dosa ke lain dosa; Adam yang selalu mengawasi diri sendiri Dengan rasa curiga Dan berusaha menutupi wajahnya Akulah tak lain Adam yang menggelepar Dalam jarring waktu dan tempat Tak tertolong lagi dari kenyataan; Firdaus yang hilang; Lantaran kesadaran dan curiga yang berlebih Atas Kehadirannya sendiri Aku adalah Adam Yang mendengar suara Tuhan : Selamat berpisah, Adam PAHLAWAN TAK DIKENAL Toto Soedarto B Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapan Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda Padamu Jua Amir Hamzah Habis kikis Segera cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rindu rupa Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati Engkau cemburu Engkau ganas Mangsa aku dalam cakarmu Bertukar tangkap dengan lepas Nanar aku, gila sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara dibalik tirai Kasihmu sunyi Menunggu seorang diri Lalu waktu – bukan giliranku Matahari – bukan kawanku. Amir Hamzah Karena Kasihmu Karya : Amir Hamzah Karena kasihmu Engkau tentukan waktu Sehari lima kali kita bertemu Aku anginkan rupamu Kulebihi sekali Sebelum cuaca menali sutera Berulang-ulang kuintai-intai Terus menerus kurasa-rasakan Sampai sekarang tiada tercapai Hasrat sukma idaman badan Pujiku dikau laguan kawi Datang turun dari datuku Diujung lidah engkau letakkan Piatu teruna di tengah gembala Sunyi sepi pitunang Poyang Tadak meretak dendang dambaku Layang lagu tiada melangsing Haram gemerencing genta rebana Hatiku, hatiku Hatiku sayang tiada bahagia Hatiku kecil berduka raya Hilang ia yang dilihatnya M. Poppy Hutagalung) Puisi "Pada Suatu Bulan yang Cerah" ... Pada Suatu Bulan yang Cerah pada suatu bulan yang cerah kutemui sepasang mata kujumpai sebuah hati baja mendenyut kejantanan di buluh-buluh nadinya menggunung kasih sayang di hatinya; ia datang padaku mengulurkan tangan padaku berkata ia sebuah rumah yang teduh aku seorang penghuni yang setia datanglah padanya pada suatu bulan yang cerah kupasrahkan hatiku atasnya dan ia menyambutku dan dunia ketawa gelak kami gelak ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia kami bersatu demikian berbulan lewat tangan kami bekerja sigap menanam benih bakal hari datang kami dan pada suatu bulan yang cerah kami lahir kembali mataku diambilnya kulitnya ditirunya "anak kami!" kami bawa ia ke gereja kami serahkan pada Jesus gembala ketika tangan pendeta melekat di kepalanya matanya bercahaya tangannya bergerak dan kakinya menyepak-menyepak ia amat manis dan sehat tapi pada suatu bulan yang cerah ia hilang dari pandangan kami matanya terpejam dan hati kami tertikam kami bawa ia ke rumahnya yang baru rumah yang sunyi jauh dari kehidupan jauh dari caya terang pada suatu bulan yang cerah kami duduk di beranda depan di tanganku buaian dan di tangannya boneka kami berdiaman tapi kami yakin kami akan lahir kembali kami akan ke gereja kembali mendukungnya dan kami akan beri ia nama matahari kehidupan demikian pada suatu bulan yang cerah hati kami kembali bertautan. Puisi: Bapak (Karya Abdul Wahid Situmeang) Bapak Bapak jadi hewan tapi hewan bukan bapak hewan kasih pada anak Aku ratapi kemalangan bapak bilang: Diam! aku tak mau diam dan kami bermusuhan Bapak jadi hewan tapi hewan bukan bapak hewan kasih pada anak ANAK yang ANGKUH WS Rendra Betapa dinginnya air sungai. Dinginnya. Dinginnya! Betapa dinginnya daging duka yang membaluti tulang-tulangku. Hai, anak! Jangan bersandar juga di pohonan. Masuklah, anak! Di luar betapa dinginnya! (Di luar angin menari putar-putar. Si anak meraba punggung dan pantatnya. Pukulan si Bapak nimbulkan dendam). Masih terlalu kecil ia digembungkan dadanya kecil diangkatnya tinjunya kecil. Amboi! Si jagoan kecil menyusuri sungai darah. Hai, anak! Bara di matamu dihembusi angin. Masuklah, anak! Di luar betapa dinginnya! (Daun-daun kecil pada gugur dan jatuh atas rambutnya. Si anak di jalan tolak pinggang. Si jantan kecil dan angkuh). Amboi, ingusnya masih juga! Mengapa lelaki harus angkuh minum dari puji dan rasa tinggi dihangati darah yang kotor? Hai, anak! Darah ayah adalah di ototmu senyumlah dan ayahmu akan lunak di dada ini tak jagoan selain kau. Dan satu senyum tak akan mengkhianati kata darah, Masuklah, anak! Di luar betapa dinginnya! (Dengan langit sutra hitam dan reranting patah di kakinya si anak membusung tolak pinggang kepala tegak dan betapa angkuhnya!) chril : DIPONEGORO Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang Februari 1943 PENERIMAAN Kalau kau mau kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani Kalau kau mau kuterima kau kembali Untukku sendiri tapi Sedang dengan cermin aku enggan berbagi. Maret 1943 DOA kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal berkedip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpulang 13 November 1943 SELAMAT TINGGAL Perempuan… Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu - dalam hatiku? - Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah…!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal Selamat tinggal…!!! HAMPA kepada Sri yang selalu sangsi Sepi di luar, sepi menekan-mendesak Lurus kaku pohonan. Tidak bergerak Sampai ke puncak Sepi memagut Tak suatu kuasa-berani melepas diri Segala menanti. Menanti-menanti. Sepi. Dan ini menanti penghabisan mencekik Memberat-mencengkung punda Udara bertuba Rontok-gugur segala. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti Maret 1943 CATETAN TH. 1946 Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai, Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut, Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai. Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut. Kita –anjing diburu- hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat. Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu; Kita memburu arti atau disertakan kepada anak lahir sempat. Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah, Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah! 1946 KEPADA PEMINTA-MINTA Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku. LAGU SIUL Laron pada mati Terbakar di sumbu lampu Aku juga menemu Ajal di cerlang caya matamu Heran! ini badan yang selama berjaga Habis hangus di api matamu ‘Ku kayak tidak tahu saja. DERAI-DERAI CEMARA cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949 SELAMA BULAN MENYINARI DADANYA Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam ranjang padang putih tiada batas sepilah panggil-panggilan antara aku dan mereka yang bertolak Aku bukan lagi si cilik tidak tahu jalan di hadapan berpuluh lorong dan gang menimbang: ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas bebas” Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam ranjang padang putih tiada batas sepilah panggil-panggilan antara aku dan mereka yang bertolak Juga ibuku yang berjanji tidak meninggalkan sekoci. Lihat cinta juga luntur: Dan aku yang pilih tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur rumah bersembunyi dalam cemara rindang tinggi pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang Gundu, gasing, kuda-kuadaan, kapal-kapalan di zaman kanak, Lihatlah cinta jingga luntur: Kalau datang nanti topan ajaib menggulingkan gundu, memutarkan gasing memacu kuda-kudaan, menghempas kapal-kapalan aku sudah lebih dulu kaku. 1948 MALAM DI PEGUNUNGAN Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan? Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! 1947 PEMBERIAN TAHU Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing. Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring. Aku pernah ingin benar padamu, Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali, Kita berpeluk ciuman tidak jemu, Rasa tak sanggup kau kulepaskan, Jangan satukan hidupmu dengan hidupku, Aku memang tidak bisa lama bersama Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama! 1946 AKU Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang 'kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu-sedan itu Aku ini binatang jalan Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi 10 Desember 1945 NISAN untuk nenekanda Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta. Oktober 1942 TAK SEPADAN Aku kira: Beginilah nanti jadinya. Kau kawin, beranak dan berbahgia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros. Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu jua pintu terbuka. Jadi baik juga kita pahami Unggunan api ini Karena kau tidak ‘kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka. Februari 1943 SIA-SIA Penghabisan kali itu kau datang Membawa karangan kembang Mawar merah dan melati putih: darah dan suci. Kau tebarkan depanku serta pandang yang memastikan: Untukmu. Sudah itu kita sama termangu Saling bertanya: Apakah ini? Cinta? Keduanya tak mengerti. Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri. Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi. CINTAKU JAUH DI PULAU Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri. Perahu melancar, bulan memancar, di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. dngin membantu, laut terang, tapi terasa dku tidak ‘kan sampai padanya. Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.” Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ‘kan merapuh! Mengapa Ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau, Kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri 1946 SENJA DI PELABUHAN KECIL buat Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 1946

Rabu, 13 Agustus 2025

Musim Berbunga

Mendayu kau ikuti waktu 
Nan ranum penyegar sukma
Hangatnya mutiara jiwa
Telah bersemi di musim berbunga

Kini Dia bersinar 
Menerangi redup dunia
Mekar tumbuh berkembang 
Mengharumi teduh dunia

Kan tiba di suatu masa 
mendulang kisah Asmara
Menghiasi kharisma kasih
Membuka misteri hati

Senin, 04 Agustus 2025

Tidur

Tidur adalah rezeki terbesar manusia
Pemberian dari Tuhan yang paling nyata
Bagaimana segala lelah, noda & duri
Terhapus tercuci lelap bagaikan bayi

Di saat tidur berhenti berbuat dosa 
Padam sejenak ambisi membara 
Jenuh lelah di nina bobo kan dunia
Sejenak lepas dari sakit & luka

Tidur seperti pertaruhan
Kembali hidup atau di pulangkan
Kendati ruh berada di genggaman
Namun yang Qoyyum menentukan

Tidur layaknya Oase bagi si patah hati
Yang ingin segera tinggal kan dunia ini
yang rindu tapi malu pada Tuhannya
Di charge kembali semangat hidupnya

Sabtu, 02 Agustus 2025

Komen Netizen pertanyakan keadilan Tuhan Saat Nabi Khidir Kill Bocil

Jika mereka tau penderitaan yang di alami itu akan memberi tempat terbaik dan kekal di surga, maka mereka rela kembali lagi ke dunia menjalani penderitaan walaupun dagingnya dipotong kecil kecil

dalam kisah itu Nabi Khidir mendidik Nabi Musa yang merasa sok tau seperti netizen ini...mudah bagi Allah untuk menghidupkan mematikan, bukan berdasarkan penilaian manusia, orang tua dari anak itu akan punya anak lagi yang lebih baik lebih banyak lebih Sholeh sholehah..dalam ayat Qur'an seluruh umat manusia gak menyembah Allah pun, Allah gak rugi..dunia ini tempatnya ujian memang sakit dan aneh tapi itulah karakter dunia ini..walau pun kamu sekaya Elon musk pun penderitaan hidup tetap ada

Semua ada hitungannya Itulah gunanya kampung Akhirat, tinggal kamu yakin apa gak dengan akhirat ...Gaza itu ujian bagi kaum muslimin..Allah gak pernah menzalimi manusia bnyak bangget ayat ini di Al Qur'an, kezaliman itu perbuatan manusia Allah ijinkan kejahatan untuk ujian bagi Manusia, karena dunia ini gak lebih berharga dari sehelai sayap lalat....jangankan penduduk Gaza cucu nabi Muhammad, sahabat para nabi, ulama-ulama sholeh dibantai, di sakiti di siksa apa langsung di bayar kontan di dunia ini



Lakon Spiritual

Ada kamera & cahaya temaram
Pencahayaannya siang malam
lensa lensa di segenap penjuru
tersembunyi menjalin storiku

Aku seperti tokoh utama
Sekaligus antagonisnya
karakter pencari pembenaran 
Asbab kebaikan atau kekacauan 

sorot sorotan menantikan 
Aksi reaktif atau di kondisikan 
Sutradara pemegang cerita
Malaikat dan setan penontonnya