Minggu, 12 Mei 2019

Menulis dalam lipatan

Hanya lembar lembar harapan
Angan mewujudkan terkurung di badan
Si tampan bersembunyi dilipatan
Menyusur kenangan mencari jawaban

Mata menerawang imajinasi terpejam
Aku piaraan mencari tuan
Aku Kegelisahan di dalam kelelahan
Aku kemalasan berbalut keapatisan

Manusiawi tak mampu pergi
Cahya sejati tak mengumpul energi
Begitulah setiap hari Menuntut diri
merusak diri mencoba lagi lupa lagi

Sabtu, 16 Maret 2019

Aku ingin sembuh

Aku ingin sembuh..
Aku tau berharga nya sehat saat aku sakit
Aku ingin berarti
Aku tau selama ini hidupku tak ada arti
Saat menunggu untuk dioperasi
Saat kepasrahan dan gelisah jadi menanti

Aku tau aku bisa Kehilangan segalanya
Meski aku belum siap meski aku tak siap
Meski akan menyakitkan
Meski akan menyulitkan
Tapi pasti dilalui harus dilalui

Sekarang aku mau berjanji
Ingin perbaiki hidup ku ini
Semua telah direnungi
Hidupku hanya begini
Ketika sampai disini
Belum ada arti

Rabu, 27 Februari 2019

Roman dalam dimensi II

Kita tahu..apa yang kita miliki
Saat ini..adalah yang terbaik
Adalah yang paling pas..
Adalah baut kita adalah mur kita
Adalah klop kita..adalah takdir kita

Kita tahu..apa yang kita upload disitu
Adalah serpihan kecil
Potongan kebahagiaan kami..
Tak ada lagi kita disitu..

Karena kita telah hidup saat itu
Di zaman itu di dimensi itu
Kita ada disana saat dia dia belum ada
Saat kita mencerna dunia - meraba

Saat ini dimensiku
Saat ini dunia terbaikku
Saat ini surgaku

Kita sekarang orang yang berbeda
Hanya memiliki kaset kenangan
Bukan aktor dan aktris
dalam cerita kekinian

Rabu, 20 Februari 2019

Honorer 300 ribu

Berjalan jalan
Setiap hari sebelum pagi
Mengarungi jalan terjal
Demi memberi yang terbaik

Mengabdi bagi masyarakat
Menjadi guru bergaji tiga ratus ribu
Dibayar rapel tiga bulan jadi satu

Maka pikiran lah maka resapilah
Saat kau bermalasan pagi ini
Saat kau mengeluhi pekerjaan ini
Nikmat mana lagi yang kau ingkari

Sabtu, 26 Januari 2019

Karena Kasih-Mu


Karena kasih-Mu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali kita bertemu

Aku ingin rupamu
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera

Berulang-ulang kuintai-intai
Terus-menerus kurasa-rasakan
Sampai sekarang tiada tercapai
Hasrat sukma idaman badan

Pujiku, dikau lagunan kawi
Datang turun dari datuku
Di ujung lidah Engkau letakkan
Piatu teruna di tengah gembala

Sunyi sepi pitunang poyang
Tidak meretak dendang dambaku
Layang lagu tiada melamgsing
Haram gemerincing genta rebana

Hatiku, hatiku
Hatiku sayang tiada bahagia
Hatiku kecil berduka raya
Hilang ia yang dilihatnya

Karya Amir Hamzah

Mencari Gelisah

Di sebuah layar kucerna kata - kata ini
" memupuk kerisauan "
Sejenak kumembantah..
" bukannya kita mencari bahagia "

Bahagia bukan meng gendutnya perutmu
Seberapa kemakmuranmu
Semewah apa mobil mu
Itu bukan bahagia - ke jumudan iya

Itu adalah dongeng tidur..
melelapkan hatimu
Hatimu tak lagi peka
Hatimu didera keinginan
Kehausan

Bukan itu...
Tumbuh adalah mencari kerisauan
Memupuk hati dan pikir

Lihatlah perutmu
Kau hampir tenggelam
di dalam zona nyamanmu
Tubuh yang kurang gerak

Pikirmu pun harus menggali
Mencari arti dan kebijaksanaan
Mencari jawaban atas semua persoalan
Kegelisahan yang
menimbulkan pergerakan

Terus bergerak atau membusuk

(kejar tesis - no spp,  26 - 1 - 2019)

Kamis, 24 Januari 2019

Anak di dalam ember

Suatu waktu aku melihat anak miskin
Hidup didalam ember..tak punya kaki
Tak punya tangan..organ tubuh tak sempurna...dia hidup di ember

Kemana mana sang ibu membawanya
Matanya terlihat tiada kendala
Walau terpancar keinginan
Untuk Menjangkau -  untuk meraih jauh
Lalu menitipkan pada kami

Pada kami yang dilahirkan dengan baik
Tanpa cacat..
Pada kami yang mencari pelepas dahaga
Tanpa akhirnya

Pada kami yang harus mempertanggungkan semua nya.

(dari sebuah facebook ttg anak dalam ember di india - januari 2019)