Jumat, 23 Oktober 2026

IBU YANG MENINGGAL DI ATAS MOTOR

Ada perempuan sepanjang hidupnya seperti tak pernah diberi kesempatan untuk bernapas lega. Ketika kesedihan pertama belum sembuh, kehilangan berikutnya datang menghantam. Ia menangis, mengusap air mata, lalu kembali bekerja. Sebab, di rumah, ada empat anak harus makan. Ada masa depan harus diperjuangkan. Ada kehidupan tak boleh berhenti hanya karena hatinya berkali-kali dihancurkan.

Perempuan itu bernama Lu’lu Atunni’mah. Usianya 38 tahun. Ia berasal dari Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sejak kecil, Lu’lu sudah mengenal kehilangan. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih muda. Ia kemudian diasuh Mbah Dhe, kakak dari neneknya. 

Lu’lu tumbuh. Ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah, lalu melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah di Pondok Mayak. Ia membangun keluarga bersama Syamsuddin, yang pernah aktif dalam kepengurusan Ansor dan Banser. Sekitar dua tahun lalu, Syamsuddin meninggal dunia. Lu’lu kembali kehilangan orang dicintainya. Kali ini, ia bukan hanya harus menguatkan dirinya sendiri. Empat anak berdiri di belakangnya, menunggu seseorang bisa memastikan kehidupan mereka terus berjalan.

Maka, ia bekerja. Apa saja yang halal, ia lakukan. Ia mencari daun pisang untuk dijual kepada pedagang dan warung makan. Ia berjualan rujak dan asinan. Ia mengumpulkan kain perca. Tak ada gengsi, tak ada pekerjaan dianggap terlalu rendah. Baginya, yang penting anak-anak bisa makan, bersekolah, dan memiliki masa depan.

Tetangganya, Ahmad Iqdam Muslihuddin, mengenangnya sebagai pekerja keras. Keluarga pihak suami turut membantu, demikian pula pihak lain memberikan dukungan. Namun, Lu’lu tetap dikenal sebagai perempuan tak berhenti berjuang.

Sabtu, 17 Oktober 2026, ia berpamitan untuk berobat ke bidan di Desa Gombang. Anak bungsunya, yang berusia sekitar tiga setengah tahun, ikut dibonceng. Perjalanan itu tak pernah berakhir sebagaimana yang diharapkan.

Lu’lu ditemukan tak sadarkan diri di depan tempat pencucian kendaraan. Nyawanya tak tertolong. Seorang ibu berangkat untuk mengupayakan kesehatannya sendiri justru tak pernah kembali ke rumah.

Kini, tiga anaknya masih menempuh pendidikan di pesantren dan Madrasah Ibtidaiyah. Si bungsu kehilangan ibu seharusnya memeluknya setiap malam.
#ponorogo



( seorang mati karena kebiasaan nya, InsyaAllah almarhumah husnul-khatimah, dimata banyak orang menganggap hidupnya malang, namun sesungguhnya hidupnya beruntung seperti kisah para nabi dan sahabat yang menempuh penderitaan, dan menjadi orang2 di jalan yang lurus yang dirindukan surga...anak2nya kelak InsyaAllah akan tumbuh jadi anak yang kuat dan sholeh..Aamiin ) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar