Selasa, 27 Agustus 2024

Penyaksi

Aku ingin jadi bintang utama
cahaya lampu tersorot merona
nyatanya aku hanya penonton
yang menyaksikan sinetron

cerita perjalanan hatiku
cerita penuh drama nan palsu
cerita aku memaknai hidupku 
cerita tentang Diakah yang kutuju

Jangan Sedih Nyalaku

Dunia yang kau cari meneguk air lautan

Puncak bukit hampa nan kesepian 

perjalanan mengumpulkan bekal

Kebaikan sekarang untuk yang kekal


jangan sedih, marah, takut, gelisah

tetaplah menyala walau secercah

sekedar tanda penunjuk arah

agar kapal tak karam lantaran goyah


sudah cukup yang kau lakukan

tak perlu kau ambil kerjaan Tuhan

lepaskan saja beban kehidupan

tiada kuasamu ubah keadaan


Nuh pun tak bisa selamatkan keluarganya

Rosulku berduka tragis keluarga cucunya

Ibrahim, Musa, Isa di eksekusi penguasa

si kakek berkursi roda begitu juga


lalu kau siapa bocil rebahan jumawa

mengharap dunia seperti telenovela

merasa kau sebagai tokoh utama

maunya menang senang di dunia


label

aku sibuk melabelisasi diriku sendiri
aku baik, aku soleh, aku berharga diri
aku intelek, aku modern, gagah sekali
tapi hanya aku aku aku yang kutemui

aku lupa memeluk dirimu
bagaimana bila aku diposisimu
lupa berterimakasih sudah mewakili
bagaimana bila takdirmu aku yang jalani



Selasa, 13 Agustus 2024

Drama itu membuatmu ber Doa

Ada yang melekat
namun tak terlihat 
cuti ini seperti surga
tapi berbatas waktunya

hingga aku seperti
tak mau kembali
enggan bersua lagi
manusia sepahit ini 

andaikan kerja dibebankan
melubangi gunung kulakukan
namun dengan insan insan
sungguh mahluk menakutkan

aku mulai kehilangan ridhanya
pikiran ini menyesatkan jiwa
kau tak seluka para syuhada
si drama paling menderita

mungkin aku putus asa
lalu mengadu pada yang kuasa
bukankah karena ini cerita
kau merengek lagi padaNya

kesedihan saat membuka medsos

memulai hari subuh dini
melek mata langsung mencari
scrol scrol sana sini
ngumpulin nyawa tak berarti

begitu banyak kesedihan
drama drama kehidupan
pembullyan, kerajaan
pencurian, kemanusiaan

dampak jahatnya membudaya
akhirnya sampai juga di dekat kita
bawaan saudara misalnya 
kelakuan seperti mafia 

kecurangan dimaklumi
tiada standar kompetensi
yang bicara uang & kuasa
kebenaran menjadi hampa

Sabtu, 10 Agustus 2024

Ayat Penting

1. Al baqarah 214 : 
kesulitan, penderitaan & guncangan 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh kemelaratan (kesulitan) dan kesengsaraan (penderitaan), serta digoncangkan ( paling berat) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

2. Al Fatihah : ayat 7
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

3. An Nisa 69
"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran/ siddiq (sahabat), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 69)

4. Yunus 44
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim sedikit pun kepada manusia, tetapi manusialah yang berbuat zalim pada diri mereka. 

5. Ar Rad ayat 28
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram

6. Az zariyat 56
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,"

7. Al Ghassiyah ayat terakhir,
Fazakir inama anta muzakir, Engkau hanyalah pemberi kabar / pengingat

Rabu, 07 Agustus 2024

Ruh Pemaaf

Kekecewaan kesedihan rasa apa ini

dalam diam merasuk ke hati

menjangkiti jasmani gelapkan rohani

seharian berlari tetap tak mau pergi


aku ke puncak dunia

mata melihat indahnya

lautan dan panorama

hanya kepuasan sementara


lalu aku kembali ke rumah

melihatnya tetap gerah

masih tersempil amarah

sampai lelap ku gelisah


ternyata esok hari

ku membuka diri

memeluk yang kubenci

dan aku relakan hati


seketika rasa pedih itu pergi

terpulihkan obat penyembuh hati

bernama memaafkan merelakan

ruh itu mendamba ketenangan