Di 3 ayat pertama Al Fatihah, kita memuji Allah dengan sudut pandang orang ketiga (Ghaib).
Segala puji bagi Allah...
Dia Yang Maha Pengasih...
Dia Yang Menguasai...
Kita sedang membicarakan Allah dari kejauhan. Memuji Sang Raja Agung yang ada di "sana".
Namun, tiba-tiba di ayat ke-5 terjadi peralihan drastis.
"Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn" (Hanya kepada ENGKAU-lah kami menyembah...)
Berubah jadi orang kedua! (Mukhatab) Kenapa nggak konsisten pakai "Hanya kepada-Nya kami menyembah"? (إياه نعبد) Kenapa tiba-tiba menyapa "Engkau"?
Ulama besar Az-Zamakhsyari memberikan penjelasan:
Pujian kita di ayat 1-3 itu ibarat "tiket VIP" untuk masuk ke ruang singgasana Allah. Setelah masuk dan perlahan mendekat, kita tidak lagi membicarakan Sang Raja dari kejauhan. Kita sudah berhadapan wajah dengan-Nya.
Disini ada transisi yang luar biasa.
Dari sekadar tahu (‘ilmul yaqīn) menjadi merasakan kehadiran-Nya (‘ainul yaqīn).
Dari sekadar talking ABOUT God, berubah menjadi talking TO God. Bayangkan keintiman itu ada di setiap rakaat shalat kita.
Imam Az-Zarkashi menyebut teknik Iltifāt ini punya fungsi kognitif: menyegarkan otak pendengar.
Otak kita gampang bosan dan gampang auto-pilot. Kalau dari awal sampai akhir pakai kata "Dia", kita gampang ngantuk atau nge-blank pas shalat.
Perubahan mendadak dari "Dia" menjadi "ENGKAU!" adalah shock therapy linguistik (seperti yang disebut Dr. Israr Ahmad).
Ia memaksa otak kita tersentak sadar: "Tunggu, aku lagi ngomong sama siapa ini? Oh iya, Tuhanku ada di depanku!"
Perubahan mendadak dari "Dia" menjadi "ENGKAU!" adalah shock therapy linguistik (seperti yang disebut Dr. Israr Ahmad).
Ia memaksa otak kita tersentak sadar: "Tunggu, aku lagi ngomong sama siapa ini? Oh iya, Tuhanku ada di depanku!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar