Sabtu, 08 Maret 2025

Kita adalah Musa Kehidupan ini adalah Khidir

Bagaimana engkau akan bersabar
Sementara engkau tidak mengetahui 
Tidak memiliki ilmu & keyakinan
Dalam menjalani segala kejadian
Seperti itu kata Khidir kepada Musa
Seperti cerita kehidupan yang
Diluar nalar kejadian tak masuk akal
Lalu kau pertanyakan " mengapa Tuhan "

Mempertanyakan aneka kejadian
Yang menimpa hidupmu
Yang semata mata agar kau menyaksikan
Oh seperti inilah diriku..begini reaksiku
Ingat bahwa sabar yaitu pukulan pertama
Kau tak akan pernah tau siapa dirimu hingga tiba peristiwa menunjukan sifatmu
Bagaimana reaksimu tepat atau salah
Kejadian yang menunjukkan wajahmu
Melihat kekuranganmu, menyesalinya 
Berusaha mencari cara memperbaikinya

Aku sering bertanya mengapa Tuhan
Mengapa ada kemiskinan 
Ada orang orang menderita 
Kesusahan, peperangan 
Di Tanah penjajahan
Ada anak anak yang sampai mati
Menerima ketidakadilan
Sama hal Seperti mati nya 
anak kecil yang dibunuh Khidir 
Namun segala tragedi itu 
Sudah ada skenario Nya
Sudah ada kompensasi nya
Malang yang terlihat di mata Musa
Hikmah Rahasia dibalik kisah khidirNya

Maka bagaimana reaksimu
Seperti apa kebijakanmu - perbuatanmu
Melihat kebatilan mencegahnya, menghindarinya, mengecamnya
Menolong korbannya, donasi 
atau minimal berdoa
Namun ada pula yang bereaksi Mendukung kezaliman, 
menciptakan ketidakadilan 
Reaksi itu adalah perbuatan

Melihat saudara kita kekurangan
Maka tugas kita yang diamanahkan rezeki
Adalah berbagi, itulah gunanya dirimu
Itulah makna beban kemiskinan 
Yang ditanggung mereka
Salah satu menjadi trigger 
Bagi yang lainnya
Tak perlu keras berfikir
Tuhan sudah mengatur segalanya
Kita manusia terbatas pengetahuannya

Khidir hanya menunjukkan wajah Musa
Khidir menjadi cermin untuk Musa
Yang tempo hari tak sengaja bicara
Bahwa aku yang paling bijaksana 
Bahwasanya kita tak boleh jumawa
Karena sudah ada ceritanya
Iblis yang merasa lebih baik dari manusia
Terusir karena keangkuhan nya
Tiada Tuhan selain Engkau 
yang Mahasuci
Sesungguhnya aku 
Hambamu yang cenderung dzolim 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar