Kamis, 02 Oktober 2025

waktu

Janganlah Kalian Mencela Ad-Dahr (Waktu)
APAKAH MAKNA “JANGANLAH KALIAN MENCELA AD-DAHR (WAKTU) KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH ITU AD-DAHR”

Pertanyaan.
Apakah hadits: “Janganlah kalian mencela Al-Waktu karena Allah adalah Al-Waktu” shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam? Bila shahih bagaimana Anda menafsirkannya?

Jawaban.
Alhamdulillah.

Hadits tersebut lafadznya bukanlah:

لا تسبوا الوقت فإن الله هو الوقت

“Janganlah kalian mencela Al-Waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah Al-Waktu.”

Tetapi lafadz yang benar adalah:

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah kalian mencela Ad-Dahr karena sesungguhnya Allah itu Ad-Dahr.”

Sedangkan lafadz tadi barangkali hanya karena penerjemahan dari pertanyaan. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu (5827). Dan di dalam lafadz lain:

لاَ يَسُبُّ أَحَدُكُمُ الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mencela Ad-Dahr karena sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu).”

Dan di dalam lafadz lain:

لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ : يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ ، فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Wahai dahr (waktu) yang sial’ karena sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr.”

Di dalam lafadz lainnya lagi Allah berfirman:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ ‏.‏ فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ ‏.‏ فَإِنِّي أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا

“Anak Adam telah menyakiti-Ku, dia berkata: ‘Wahai waktu yang sial !’ Maka janganlah kalian berkata: ‘Wahai waktu yang sial’ karena Aku adalah Ad-Dahr (waktu). Aku membolak-balikkan malam dan siang, maka apabila Aku menghendaki pasti Kucabut kedua-duanya.”

Adapun makna hadits, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah:
“Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini adalah ungkapan (bukan hakiki) karena dulu orang Arab suka mencela waktu ketika terjadi malapetaka dam musibah yang menimpa mereka, baik berupa kematian, pikun, kehilangan harta dan yang lainnya, lalu mereka berkata: “Wahai waktu yang sial!’ atau kalimat lainnya yang mengandung celaan terhadap waktu. Maka berkatalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam:

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

Baca Juga  Muslim Tapi Mengerjakan Maksiat
“Janganlah kalian mencela waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah waktu.”

Artinya janganlah kalian mencela pembuat kejadian karena apabila kalian mencela pembuat kejadian terkenalah celaan itu kepada Allah Ta’ala, karena Dialah Pembuat kejadian itu. Adapun Ad-Dahr itu sendiri maknanya adalah waktu (masa), dia tidak punya perbuatan bahkan dia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Ta’ala. Dan makna “Sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu)” artinya pembuat dan pencipta peristiwa dan kejadian. Wallahu A’lam.” [Syarah Muslim 3/15]

Harus diketahui pula bahwa Ad-Dahr bukanlah salah satu di antara nama-nama Allah. Adapun penisbatan Ad-Dahr kepada Allah hanyalah penisbatan penciptaan dan pengaturan. Artinya Dialah yang menciptakan dan yang mengatur Ad-Dahr (waktu) karena adanya beberapa lafadz di dalam hadits lain yang semakna.
Seperti firman Allah :

بِيَدِيَ الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

” Di tangan-Kulah segala urusan. Aku bolak-balikkan malam dan siang.”

Maka tidak mungkin di dalam hadits ini yang membolak-balikkan dan yang dibolak-balikkan adalah sama, akan tetapi yang membolak-balikkan adalah Allah sedangkan yang dibolak-balikkan adalah waktu yang diatur oleh Allah baik kejadiannya ataupun waktunya sesuai dengan kehendak-Nya. [Lihat: Fatawa Aqidah Syaikh Al Utsaimin 9/163].

Al Hafidz Ibnu Katsir, ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala yang berbunyi:

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ

“Dan mereka berkata: ‘Hal itu tidak lain kecuali hanya kehidupan kita di dunia, kita mati hidup dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali Ad-Dahr (waktu).” [Al Jatsiyah/45 :5].

Berkata (Ibnu Katsir): “Telah berkata Syafii, Abu Ubaidah, dan yang lainnya ketika menafsirkan perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Janganlah kalian mencela waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah waktu.” Dahulu orang Arab di zaman jahiliyah, bila mereka ditimpa kesulitan, musibah, atau bencana, mereka berkata: ‘wahai waktu yang sial’ lalu mereka menyandarkan kejadian itu kepada waktu dan mencelanya, padahal pembuat kejadian itu hanyalah Allah Ta’ala maka seolah-olah mereka hanyalah mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena sesungguhnya Dialah pembuat kejadian itu secara hakiki. Oleh karena itu Dia melarang mencela waktu dengan ungkapan tadi karena Allah adalah Ad-Dahr yang mengatur waktu dan mereka mengandarkan kejadian itu kepada-Nya. Inilah sebaik-bail perkataan dalam menafsirkan hadits ini dan inilah yang dimaksud. Wallahu A’lam [Tafsir Ibnu Katsir
Referensi : https://almanhaj.or.id/899-janganlah-kalian-mencela-ad-dahr-waktu.html

Senin, 22 September 2025

Sakit

Saat sakit badan tak enak
nafsu tak bisa memuncak
Menggigil demam lemas lelah
Namun tetap ada hikmah

Akhirnya engkau bisa berhenti 
Berbuat dosa menganiaya diri
Tiada selera lagi makan nasi
Raga tak bisa sesuka hati 

Semoga dosa terpangkas
Kau hanya ingin tidur pulas
Nina Bobo dalam kasihNya
Pahami sehat itu berharga

Kamis, 18 September 2025

Lelaki Su'udzon

Kuingin jadi pembelah gunung saja
Biar sendirian tak mengapa 
Daripada dengan mereka 
Lama lama membikin gila 

Terlalu banyak luka disini 
Bukan dendam bukan benci  
Tapi membekas di memori
Aku tak mau melihatmu lagi

Maafkan aku yang kurang ridha 
Kau lebih tahu daripada aku
Melalui rasa yang tak berdusta
Mana bisa ku tutupi topengku

Rasa tak enak Seperti nelangsa 
Ada yang terbakar panas di dada
Aku sedang tidak baik baik saja
Aku lelah tak mau lagi di sana

Namun aku bayi yang menangis meronta 
Tapi Tak bisa apa apa - tak tau mengapa
Mereka bilang aku gila 
pikiranku suudzon saja






Rabu, 17 September 2025

Bila Engkau Bersedih

Bila engkau Bersedih ingatlah
Semua kejadian ini tercatat sudah
50 ribu tahun sebelum semesta tercipta 
Manusia berusaha Tuhan menentukannya 

Sekeras apapun usaha  
didukung dari segala cara
Namun bila bukan takdirnya 
Tak akan menjadi nyata

Bersembunyi dibawah selimut
Tak akan menyelamatkanmu dari maut
Walau Minum obat memperpanjang usia
Takkan menambah jatah hidup didunia

Sejauh apapun kau berlari
Berusaha keras menghindari
Namun yang ditetapkan terjadi
Pasti terjadi..mau tak mau dijalani

Terasa berat menjalani 
Bila Tidak ridho ketentuan illahi
Menjadi ringan beban hidup ini 
Bila menerima dengan sepenuh hati

Begitu lah seorang muslim tiada ruginya
Syukur dan Sabar dalam tiap suka duka
Dia percaya Tuhan tiada menzaliminya
Segala kepahitan dunia peluruh gulita

sedetik seper nano detik

Betapa pikiran ini cenderung salah
Yang jahat bisa mengalir pada darah
Pergulatan sepanjang masa
Selalu waspada bahkan pada nyawa 

sepersekian nano detik 
Bagaimana jatuhnya nila setitik
Rusak susu sebelangga lantaran goyah
tidak bisa lepas dari Mu ya Allah

Begitu banyak kejadian sekejap saja
Menjadi sejarah noda noda usia 
Lepas kendali ditunggangi nafsu
Akal terbuai -  butakan kalbu


Sabtu, 13 September 2025

Tuhan yang Maha Baik

Kehidupan kita saat ini 
Sudah melampaui raja raja di masa lalu
Bagaimana tidak, 
kita bisa tidur dikasur yang empuk
Butuh air tinggal buka kran
Mau makan apapun ada
Butuh hiburan banyak dimana mana
Buka hp bisa scrol manja
Di balik itu semua 
Kita punya Tuhan yang maha baik
Yang maha mengurus kita
Sejak bayi hingga dewasa ini
Bagaimana tidak
Bila Tuhan tidak menjagamu
Sudah lama engkau binasa
Akibat ulah perbuatan 
konyolmu Dimasa lalu
Yang tidak tiba tiba mencabut nyawa kita
Diberinya kita tangguh waktu
Diberinya kita ujian untuk berkembang 
Di berinya kita masalah, duka 
Untuk menghapus dosa dosa
Untuk memetik hikmah dan pelajaran 

Kamis, 11 September 2025

ketidakpercayaanku padaku

Sampai sejauh ini 
Pendakian penuh uji 
Sebatas ini kupahami 
Mahluk tak abadi 

Hanya Kau yang sejati 
Kami hanyalah abdi 
Neraka jiwa menanti 
Manakala tersesat merugi 

Dengan diri ini kutakpercaya lagi 
Halus Bisikan setan tak bertepi 
Jutaan strateginya tekun sekali 
Pada akal dan nafsu melingkupi 

Tiada puncak disini
Yang ada lembah kehinaan 
Yang harus kulalui 
Dengan penuh kerelaan